About Me

Foto saya
http://ferymenuliz.blogspot.com/ adlah blog pertama yang saya buat, didalam nya berisi segala macam pemikiran, analisis, ide, pengalaman, pengetahuan, sampai sok tahu nya penulis ada disini. http://ferymenuliz.blogspot.com/ merupakan wadah bagi si penulis(tentu saja saya sendiri)untuk menampung segala bentuk problem, kejadian,, hal hal dan yang ingin diteriakkannya. http://ferymenuliz.blogspot.com/ ini sendiri tercipta karena banyak nya karya tulis dari si penulis yang hilang tanpa jejak baik itu artikel, puisi,cerpen, sampai segala bentuk kata rayuan yang pergunakan oleh si penulis dalam usaha asmaranya. untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan membiarkan file file penting dan bersejarah lain nya hilang, serta untuk memotifasi terciptanya karya tulis lainnya,, maka dengan penuh kesadaran,,saya: nama : fery afrizqal tptgl : atjeh utara 5 juni 90 pekerjaan : mahasiswa universitas muhammadyah surakarta. fakultas ilmu komunikasi dan informatika. jurusan ilmu komunikasi. menciptakan blog ini,,, trims

cie piyoh

blog ini berisi banyak hal yang ada dipikiran saya,, mencoba menuliskannya bukanlah suatu hal yang salah, baca dan ambillah jika itu benar dan pantas menurut anda, tinggalkan pesan jika banyak kekurangan didalamnya,
Tampilkan postingan dengan label analisis lon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label analisis lon. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Agustus 03, 2013

Sekelibat Kisah Lokananta, Gamelan Dari Kahyangan

Hegemoni Kuasa Dan Kebudayaan
Lokananta, sebagian orang mengenalnya sebagai studio rekaman tertua di indonesia. Sebagaian besar masyarakat indonesia yang lainnya bahkan tidak mengetahui keberadaan dan kisah kejayaan bangsa yang disimpan oleh studio rekaman yang terletak di kota bengawan ini. Menurut penelusuran ensiklopedia bebas indonesia, lokananta bermakna gamelan dari kahyangan  yang berbunyi tanpa penabuh. Lokananta sejak awal berdirinya dimaksudkan terus “bersuara untuk bangsa”.
Sejarah awal berdiri nya lokananta ini bisa kita dapatkan bahkan melalui selebaran yang dengan mudah ditemui jika kita berkunjung ke lokananta. tidak perlu bertanya kepada para ahli sejarah jika ingin mengetahui seluk beluk sejarah lokananta, kita hanya perlu mengunjunginya dan dengan begitu kita akan paham tentang lokananta.
 Sejarah lokananta mengisahkan bahwa awal berdirinya lokananta diprakarsai oleh Angkasawan RRI serta R. Maladi dan kawan-kawannya dengan tujuan awal yaitu memenuhi kebutuhan siaran radio yang masih kurang pada saat itu. Sebagaimana kita tahu bahwa siaran radio memiliki kedudukan yang penting bagi negara diawal kemerdekaannya sebagai penyambung semangat antar rakyat indonesia, bahkan radio berperan penting dalam memproklamirkan kemerdekaan indonesia, salah satunya radio rimba raya yang mengabarkan kepada dunia bahwa belanda belum mampu menggulingkan pemerintahan indonesia yang berdaulat dalam agresi militernya.
Untuk memenuhi kebutuhan siaran radio pada saat itu, didirikanlah pabrik piringan hitam. Pada tahun 1950 dilakukan uji coba pertama dan berhasil dengan sukses. Perintisnya adalah R.Oetojo Soemowidjojo dan R.Ngabehi Soegoto Soejodipoero  yang pada  waktu itu menjabat Kepala Studio RRI dan Kepala Tehknik Produksi RRI Surakarta, sedangkan R.Maladi menjabat Direktur RRI di Jakarta. Studio rekaman Lokananta ini didirikan pada tanggal 29 Oktober 1956 tepat pukul 10 pagi yang diresmikan secara langsung oleh Menteri Penerangan Republik Indonesia, R. I. Soedibjo dengan nama awal Pabrik Piringan Hitam Lokananta, Jawatan Radio Kementrian Penerangan Republik Indonesia di Surakarta. Nama Lokananta itu sendiri diusulkan oleh R. Maladi yang menjabat sebagai Direktur Jenderal RRI, kepada pemerintah dan kemudian di setujui oleh Soekarno selaku Presiden pertama RI pada waktu itu. Tujuan awal pendirian lokananta sebagai penyedia kebutuhan siaran RRI seluruh indonesia kemudian berubah menjadi studio rekaman piringan hitam. Dari sinilah kemudian munculnya para pegiat seni dibidang musik menunjukkan eksisitensinya. Dengan adanya studio rekaman lokananta,membuka jalan bagi para seniman indonesia diwaktu itu untuk mengarsipkan karya seni mereka.
Melihat pengaruh besar yang dibawa oleh lokananta terhadap penyiaran indonesia dan menjadi filter bagi masuk dan berkembangnya budaya barat yang dikhawatirkan memberi efek buruk bagi idiologi bangsa indonesia,maka status lokananta di ambil alih negara dan dijadikan sebagai perusahaan negara berdasar pada Peraturan pemerintah No. 215 tahun 1961. Soekarno sendiri menjadikan lokananta untuk membendung budaya barat yang semakin populer. Soekarno menginginkan agar budaya lokal indonesia tumbuh dan berkembang sebagai pembentuk jatidiri bangsa. Disini hegemoni besar ditunjukkan oleh soekarno terhadap masyarakat indonesia melalui lokananta. Berbicara tentang hegemoni maka sebuah pengertian tentangnya bisa kita liat dari pandangan Graeme Burton, menurutnya hegemoni merupakan cara yang digunakan untuk menerapkan idiologi yang tidak terlihat agar menjadi idiologi dominan.  Dari beberapa pengertian hegemoni yang bisa kita dapatkan, pandangan G.burton sendiri saya anggap paling tepat jika dikairtkan dengan hegemoni yang oba dibangun oleh soekarno. Sebagai orang yang tegas menolak barat (antibarat) maka lokananta adalah senjata yang tepat bagi Soekarno negara ini pada waktu itu untuk menjaga nilai luhur dan budaya lokal bangsa indonesia.
Budaya Pop Dan Identitas
Secara umum kita mendefinisikan budaya sebagai sebuah hasil cipta manusia yang dilakukan secara terus menerus-menerus sehingga budaya itu mengakar dan berusaha untuk dipertahankan karna dianggap memiliki nilai-nilai luhur. Berdasarkan penelusuran saya, salah satu definisi budaya yang sesuai untuk bahasan ini mengacu pada pendapat Bounded et.al yang mendefinisikan Kebudayaan sebagai sesuatu yang terbentuk oleh pengembangan dan transmisi dari kepercayaan manusia melalui simbol-simbol tertentu, misalnya simbol bahasa sebagai rangkaian simbol yang digunakan untuk mengalihkan keyakinan budaya diantara para anggota suatu masyarakat. Pesan-pesan tentang kebudayaan yang di harapkan dapat di temukan di dalam media, pemerintahan, intitusi agama, sistem pendidikan dan semacam itu.
Sementara pandangan lain tentang budaya juga disampaikan oleh William, menurutnya budaya merupakan proses umum sebuah perkembangan intelektual, spiritual dan esthetic (Williams,1983 :90)
Pengertian budaya inipun ter lihat sedikit memiliki perbedaan dengan pengertian budaya popular, Pemikiran tentang budaya populer menurut Ben Agger ( 1992;24) dapat dikelompokkan pada empat aliran (a) budaya dibangun berdasarkan kesenangan namun tidak substansial dan mengentaskan orang dari kejenuhan kerja sepanjang hari;( b) kebudayaan populer menghancurkan nilai budaya tradisional;(c) kebudayaan menjadi masalah besar dalam pandangan ekonomi Marx kapitalis; dan (d) kebudayaan populer merupakan budaya yang menetes dari atas.
Dilihat dari pemikiran ben agger, tidak semua poin dapat penulis pahami karena keterbatasan referensi yang penulis dapatkan, namun berkaitan dengan lokananta sebagai suatu bagian penting bagi berkembangnya budaya Indonesia, maka poin B dari pemikiran ben agger bahwa budaya populer dapat mengancurkan nilai budaya tradisional sangat mudah kita cerna. Disisni jelas bahwa budaya popoler yang berkembang dimasa itu bisa menghambat dan menghancurkan budaya tradisional yang coba dibangun oleh bangsa Indonesia melalui lokananta sebagai penyebar dan penjaga budaya yang akan menciptakan identitas bangsa sebagai bangsa yang berbudaya.
Lokananta tidak lagi hanya berperan sebagai sebuah pabrik piringan hitam semata, namun lokananta telah bergerak jauh dalam upayanya untuk membentuk identitas bangsa yang pada saat itu memasuki awal kemrdekaannya. Serta membendung upaya masuknya budaya barat yang mulai menyebar ke seluruh dunia pada saat itu. Tentu saja dalam perkembangannya masyarakat Indonesia yang terus berkembang mencapai modernitasnya, namun tidak berarti modernitas itu menghilangkan budaya lokal yang telah lama digunakan bangsa Indonesia sebagai pemersatu bangsa dan pembentuk identitas bangsa.
Budaya Pop Dan Budaya Massa
Budaya populer atau budaya pop  mengacu pada bagaimana produk-produk yang dihasilkan oleh budaya untuk digunakan. Sementara buadaya massa adalah sub dari budaya pop yang lebih detail. Sehingga budaya massa di definisikan bagaimana budaya populer itu dipasarkan dan disebarluaskan. Kaitannya dengan lokananta terletak pada dua aspek dari budaya pop dan budaya massa. pertama, lokananta adalah sebuah bagian penting yang berperan dalam menggunakan produk-produk budaya yang dihasilkan sehingga menjadi popoler disaat itu, kedua; lokananta berkaitan dengan budaya massa disebabkan, sesuai definisi budaya massa yang mengacu pada bagaimana budaya yang telah dihasilkan itu untuk disebar luaskan. Lokananta berada paling depan untuk dua aspek ini, baik sebagai penghasil dan pengguna budaya sehingga menjadi populer maupun sebagai penyebar budaya yang telah dihasilkan. Sehingga sangat penting bagi lokananta untuk terus dilestarikan. Meski sekarang lokananta seakan hanya berfungsi sebagai “museum” semata. Tapi paling tidak pengaruh besar lokananta dimasa lalu telah membuat bangsa ini memiliki identitas dan jatidirinya dan berjuang untuk terus menyebarkan kearifan nilai-nilai tradisional Indonesia dan menjadi filter dari serbuan budaya barat dimasa lalu. #selamatkan dan lestarikan lokananta


Senin, Desember 19, 2011

Sama, Belum Tentu Plagiat.


Tradisi plagiat dikalangan mahasisiwa dan akademisi sudah sangat mengkhawatirkan. Hal ini menunjukkan kelemahan intelektual dari mereka yang menamai diri mereka sebagai kaum intelektual. Plagiarisme yang mereka lakukan bukan hanya dalam pembuatan skripsi dan sejenisnya, namun tugas biasa dalam bentuk artikel maupun makalahpun tak luput dari kebiasaan pragmatis ini.

Universitas Muhammadyah Surakarta sedang gencar mengkampanyekan anti plagiat dilingkungan kampus. Taglinenyapun tidak main-main, pihak universitas bahkan menyamakan plagiat dengan aksi kejahatan dan korupsi. Sepintas agak aneh juga ketika plagiat disamakan dengan korupsi, banyak mahasiswa sendiri yang belum mampu memahami korelasi antara plagiat sama dengan kejahatan sama dengan korupsi. Terlalu banyak persamaan yang digunakan mungkin bermaksud untuk menyederhanakan bahasa, intinya adalah katakan tidak pada plagiat.

Dalam SK Rektor UMS tentang Tata Tertib Mahasiswa UMS Bab VI tentang Pemalsuan disebutkan bahwa pelaku plagiat bisa dikenai sanksi skorsing 2 semester. aturan lain yang memuat tentang pelarangan plagiat adalah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 17 tahun 2010 tentang Pencegahan & Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi.

Lebih menarik lagi ketika beberapa dosen juga konsisten untuk memerangi kecurangan plagiat dengan memberikan sanksi jika terjadi plagiat bahkan untuk tugas yang diberikan. Kemudahan akses informasi melalui internet harusnya mengarahkan mahasiswa untuk lebih kritis dalam menganalisa permasalahan bukannya mengedapankan copy-paste dalam pemenuhan tugasnya.
Sekilas, semua yang dilakukan baik oleh Rektor melalui SK nya maupun kebijakan dosen sendiri sebenarnya terlihat sangat mulia. Namun dalam menyikapi hal ini dosen harus lebih jeli dalam melihat karya/tugas mahasiswa.

Penulis tetap percaya dengan “sama, tapi bukan plagiat”. Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Penulis melihatnya dari pengalaman penulis sendiri. Dalam sebuah tugas, penulis mengerjakannya dengan sangat teliti, tidak ada satupun poin yang merupakan hasil kutipan, semuanya murni apa yang ada dipikiran penulis.

Namun betapa kagetnya, ketika penulis menemukan beberapa kesamaan antara hasil tulisan penulis dengan tulisan orang lain. Beberapa poin yang penulis sampaikan ternyata juga disampaikan oleh penulis lainnya. . Penulispun berusaha menganalisis kesamaan sudut pandang ini.

Penulis menemukan suatu fakta bahwa kesamaan hasil karya seperti itu tak lepas dari kesamaan dalam observasi tiap penulisnya. Apa yang dilihat dan dialami oleh penulis juga bisa dilihat dan dialami oleh orang lain. Sehingga dalam penyusunan karyanya beberapa poin terlihat sama.

Teringat sebuah ungkapan pembelaan yang diucapkan oleh Iwel Sastra, salah satu tokoh Stand-Up Comedy Indonesia dalam acara Just Alvin Di Metro Tv mengenai kesamaan ini, menurutnya “ kesamaan yang terjadi dikarnakan observasi yang sama antara dua orang sehingga kesimpulannya pun sama, tapi itu bukan bagian menjiplak atau mengikuti orang lain”.
Nah mencermati ucapan diatas, maka muncullah suatu pemahaman baru bahwa “sama belum tentu plagiat” .

Penulis sendiri sangat percaya bahwa adanya kemungkinan beberapa orang bisa memiliki kesamaan pemikiran berdasarkan apa yang mereka lihat dan mereka alami.

Kamis, Desember 15, 2011

Komunikasi dan peran media massa dalam kehidupan

Dalam sebuah obrolan ringan antara penulis dengan beberapa PNS di kecamatan. saat itu penulis bermaksud untuk mengurus surat pindah karena alasan study. Seorang diantara mereka bertanya,” adik kuliah dimana”?. Dengan sedikit bangga saya menjawab “saya kuliah di solo, jawa tengah”. Temannya yang lain ikut bertanya, “ dijurusan apa”? kali ini dengan sangat bangga penulis menjawab “ jurusan ilmu komunikasi”.

Namun alangkah kagetnya ketika mereka memiliki suatu stereotype tentang jurusan study yang sedang penulis tempuh. Dengan entengnya mereka berkata “ komunikasi? Masa mau berbicara saja harus kuliah dulu, paling kalau lulus nanti kerja Cuma jadi pemberi kata kata sambutan kalau ada hajatan atau orang meninggal”.

Cerita diatas yang dialami penulis menunjukkan ketidakpahaman masyarakat mengenai ilmu komunikasi. Bisa saja ketidakpahaman ini disebabkan dari latar pendidikan mereka, namun diluar dari pada itu ilmu komunikasi ternyata masih harus membuktikan dirinya bahwa komunikasi tidaklah segampang yang mereka kira.

Benarkah ungkapan tersebut bahwa komunikasi tidak segampang yang kita kira?

Dalam bukunya ilmu komunikasi sebagai sebuah pengantar, prof.dedy mulyana banyak memberi gambaran tentang komunikasi yang ternyata sangatlah rumit. Sebuah ilustrasi diberikan oleh prof. dedy mulyana untuk menggambarkan kesulitan ini

“terbukti bahwa kekeliruan dalam komunikasi, dapat membawa sebuah bencana. Kesalahan menerjemahkan pesan yang dikirim pemerintah jepang di akhir perang dunia ke II mengakibatkan terjadinya targedi Hiroshima dan Nagasaki. Kata mokusatsu yang dugunakan jepang sebagai syarat menyerah diartikan domei yang berarti “mengabaikan” oleh tentara amerika. Padahal kata mokusatsu itu sendiri bermakna “ kami akan menaati ultimatum tuan tanpa komentar”. Sementara pasukan amerika terlanjur mengartikan “ no koment” sehingga bob atom pun dijatuhkan.”

Ilustrasi yang diberikan oleh prof dedy mulyana ini mungkin tidak akan mudah bisa dipahami oleh PNS di kecamatan yang terlibat obrolan dengan penulis.

Mengapa komunikasi harus dipelajari?, bukankah setiap hari kita sudah mengalami komunikasi? Ternyata sekali lagi memahami komunikasi adalah memahami apa yang terjadi selama komunikasi berlangsung, mengapa itu terjadi, akibat apa yang ditimbulkan dan pada akhirnya apa yang dapat kita perbuat untuk mempengaruhi hasil-hasil dari proses komunikasi tersebut (porter dan samovar). Dari sini kita punya gambaran baru bahwa meskipun komunikasi sudah kita lakukan setiap hari namun diluar dari pada itu kita masih harus terus mempelajari komunikasi. Ini menandakan betapa pentingnya komunikasi dalam kehidupan.

Thomas m.scheidel mengemukakan bahwa kita berkomunikasi untuk menyatakan dan mendukung identitas diri, untuk membangun kontak social dengan orang disekitar kita dan untuk mempengaruhi orang lain agar berfikir dan bersikap seperti kita.

Di era yang semakin modern ini komunikasi seakan mendapatkan “wadah yang nyaman” dalam sosok media massa. Jika kita melihat pandangan Thomas .scheidel diatas maka kita bisa menemukan bagaimana komunikasi “ berjalan lebih nyaman” dengan media massa. Manusia bisa melakukan proses aktulisasi dengan berkomunikasi dan kini menjadi lebih komplit ketika proses itu mendapat bantuan dari media massa.

Media massa menjadi elemen dasar jika komunikasi kemudian kita jabarkan sampai kepada komunikasi massa. Meski banyak devinisi yang bisa menjelaskan tentang komunikasi massa namun mengaitkan komunikasi massa dengan media massa adalah pilihan terbaik.

Penulis sangat tertarik dengan ungkapan humoris will rogers,” yang saya tahu adalah apa yang sayabaca dikoran”. Ungkapan ini sudah sangat menjelaskan tentang peran media massa dalam kehidupan manusia.

Dari kita bangun tidur sampai kita tidur lagipun yang terbayang adalah apa yang kita liat dari televisi, yang kita dengar dari radio dan apa yang kitabaca dari Koran. Media massa sudah sangat menyatu dalam sendi-sendi kehidupan manusia.

Semua informasi yang kita butuhkan untuk kehidupan kita sudah disediakan oleh media massa. Sehingga jika kita harus memberi ukuran seberapa besar peranan media massa dalam kehidupan kita maka akan sangat sulit untuk menggambarkannya.

Ketika terjadi suatu peristiwa disekitar kita, dan bahkan kitapun menjadi saksinya, namun tetap saja kita masih berburu Koran, rebutan remote tv hanya untuk melihat dan mendengar peristiwa yang terjadi didepan kita. Itulah gambaran betapa pentingnya media massa dalam kehidupan manusia.

Peran lain dari media massa adalah ketika kekuatannya mampu membawa seseorang mencapai puncak popolaritasnya, membuat manusia merasa hebat namun pada akhirnya media massa jualah yang akan meruntuhkannya. Mungkin kejadian-kejadian yang menimpa “artis youtube” di Indonesia bisa menjadi gambaran. Seorang Norman Kamaru dibuat melejit oleh media namun setelahnya media juga yang membuatnya kembali membumi.

Diakui atau tidak,salah satu factor kemajuan dalam masyarakat disebabkan oleh peran media massa. Namun sebaliknya kekacauan, kemerosotan moral dan tindak kekerasan yang timbul dalam masyrakat juga disebabkan oleh media massa.

Rabu, Desember 14, 2011

Tantangan bagi pernikahan pasangan beda budaya


Pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang berbeda kebudayaan tidaklah gampang dan berjalan mulus, banyak tantangan yang harus mereka hadapai ketika mereka memutuskan untuk menikah. Paling tidak ada beberapa hal yang menjadi tantangan bagi mereka;

· Sulitnya Meyakinkan Keluarga

Keluarga adalah elemen terpenting dalam kehidupan seseorang,dari keluargalah karakter seseorang dibentuk. Keluarga dengan karakter budaya yang kuat tentunya akan mewariskan kebudayaan tersebut kepada generasinya.

Segala macam problema hidup kadang bisa diselesaikan oleh keluarga, masalah salah satu anggota keluarga menjadi masalah bagi anggota keluarga yang lain. Begitulah pengaruh keluarga terhadap kehidupan seseorang. Sehingga keluarga tidak bisa dipisahkan dari kehidupan seseorang.

Lantas bagaimana ketika seorang anggota keluarga memiliki rencana besar untuk hidupnya namun bertentangan dengan pendapat anggota keluarga yang lain bahkan bersinggungan dengan nilai-nilai budaya yang dianut oleh keluarga besarnya?

Menikah, bagi sebagian besar masyarakat adalah sebuah hajatan besar yang harus melibatkan kelurga besar juga,

jika anggota keluarga memutuskan untuk menikah dengan seseorang yang berasal dari kebudayaan yang berbeda, maka peranan si calon pengantin itu sendiri sangat besar untuk meyakinkan anggota keluarganya agar menyetujui pernikahannya. Ini menjadi tantangan terbesar bagi jalannya untuk menikah dengan orang yang datang dari luar kebudayaan mereka

· Penyesuaian Budaya Dari Pasangan

hal ini juga sangat penting untuk diperhatikan, menikah beda budaya membutuhkan pemahaman terhadap pasangannya.

Nah proses adaptasi budaya pasangan inilah yang akan sangat sulit untuk dilakukan. Apalagi jika kebudayaan pasangannya memiliki bentuk yang sama namun berbeda dalam pemaknaan. Hal ini bisa menimbulkan konflik diantara mereka dan pada akhirnya hubungan merekapun akan kandas.

Proses adaptasi budaya pasangan ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang menikah beberbeda budaya.

· Benturan Kebudayaan

benturan kebudayaan juga menjadi tantangan berarti bagi pasangan yang menikah beda budaya. Tidak mudah untuk menghindari benturan-benturan yang terjadi dalam kebudayaan mereka.semisal jika dalam budaya si istri beberapa hal dianggap wajar namun dalam budaya si suami yang tersebut justru dianggap tidak pantas maka disini akan terjadi benturan antar budaya. Jika tidak ditanggulangi maka muaranya adalah berakhirnya hubungan pernikahan mereka.

· Ketersinggungan Pasangan Terhadap Budaya Pasangannya

banyak hal yang bisa menimbulkan rasa tersinggung dari pasangan yang berbeda kebudayaan. Meskipun keduanya sudah saling memahami kebudayaan masing-masing.

Namun tidak mudah untuk memilah benturan kebudayaan diantara keduanya yang bisa mengakibatkan salah satu dari mereka merasa tersinggung.

Wanita dari kebudayaan barat biasa memanggil suaminya dengan nama,sementara pria jawa lebih senang dipanggil mas,dan orang Sumatra lebih bangga dipanggil bang sebagai bentuk penghormatan dari istrinya.


Baik pria jawa maupun pria Sumatra tentu akan tersinggung jika sang istri yang berasal dari budaya barat memanggilnya joko atau togar tanpa mas maupun bang. Seperti itulah gambaran tantangan yang harus dihadapi terkait dengan saling menjaga perasaan diantara pasangan beda budaya.

· Susah Untuk Bersatu

Kebudayaan adalah sesuatu yang sudah melekat dalam diri seseorang dan bahkan itu sudah menjadi identitas dirinya.

Sehingga budaya yang sudah tertanam dalam kehidupannya tak akan mudah untuk diganti dan dihilangkan.

Jika melihat pada kuatnya pengaruh budaya terhadap pandangan hidup seseorang maka sangat sulit untuknya bisa menerima pangaruh budaya lain masuk dalam kehidupannya meskipun pengaruh itu datang dari pasangannya sendiri.

Sehingga pada akhirnya keduanya akan merasa ketidakcocokan dalam menjalani kehidupan mereka apalagi jika benturan demi benturan tidak bisa mereka selesaikan.

· Ketakutan kehilangan identitas keturunan.

pernikahan pasangan yang berbeda latar belakang budaya memang akan menimbulkan persoalan pada sisi nilai budaya manakah yang akan diwariskan kepada anak.

Ketika ada salah satu pihak yang mendorong anaknya untuk memahami salah satu budayanya, maka yang terjadi adalah ketidakharmonisan.

Jika pasangan beda budaya ini tidak menemukan solusi yang tepat dan kecenderungan budaya masing-masing masih sangat kental maka masalah budaya yang akan diwariskan kepada sang anak juga akan diperdebatkan.


Penjabaran diatas adalah persoalan secara umum yang diangkat penulis, banyak tantangan lain yang mungkin terjadi bagi pasangan yang berbeda kebudayaan saat mereka memutuskan untuk menikah. Namun menurut penulis penjabaran poin diatas bisa menampung permasalahan lain yang terjadi dalam persoalan pernikahan beda budaya.

Selasa, Desember 06, 2011

Agama dan Budaya

A

gama adalah sesuatu unsur utama yang sangat vital dalam kehidupan masyrakat, antara agama dan budaya semacam memiliki hubungan yang bisa dirunut. Jika kita melihat lebih dalam, nilai nilai agama yang dianut oleh suatu masyarakat tertentu kemudian juga diaplikasikan dalam unsur unsur dan nilai nilai budaya nya. Saya mengambil contoh bagaimana kebudayaan masyarakan Bali yang bersumber dari nilai nilai agama hindu yang mereka anut, ritual agama kemudian berkembang menjadi tradisi budaya yang diwariskan secara turun temurun. Begitu pula di daerah Aceh misalnya, dengan kehidupan beragama islam yang sangat kental, unsur budayapun dibentuk dari nilai nilai dan ajaran islam.

Namun keadaan bisa juga mengatakan sebaliknya,, banyak juga unsur kebudayaan yang telah lama ada kemudian diadopsi sebagai ritual agama. Beberapa tradisi yang dulunya merupakan hasil sebuah kebudayaan kemudian dileburkan kedalam ritual agama, sehingga menjadi sulit untuk mengembalikan ritual agama dan tradisi budaya. Namun dari semua penjelasan diatas ternyata antara agama dan buday memiliki akar kata yang sama, dalam bahasa sanskerta “agama” berarti tradisi, sebuah pemahaman makna yang sama dengan arti budaya itu sendiri.

Pemahaman mengenai aspek agama dalam budaya tertentu jelas akan sangat membantu kita untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan mereka. Sama halnya dengan kecendrungan hubungan dalam komunikasi antar pribadi dan kelompok, ketika ada sebuah kelompok besar yang didalamnya dipenuhi oleh bnayak individu dengan kecendrungan pemikiran yang berbeda, maka individu dengan latar pola pikir yang sama kemudian akan membentuk suatu kelompok baru didalam kelompok besar yang telah ada. Karena manusia memilki kecendrungan untuk berhubungan dan menjadi pribadi yang terbuka terhadap sesame mereka yang memiliki visi maupun arah piker yang sama.

Begitu juga sama halnya jika kita memahami suatu aspek agama dalam sebuah budaya tertentu, semakin kita bias memahami aspek agama dari budaya lain maka semakin mudah pula untuk kita beradaptasi dengan mereka dan arus komunikasi maupun interaksi dengan mereka akan semakin terbuka lebar. Dengan memahami suatu aspek agama dari budaya lain paling tidak kita akan merasa lebih nyaman saat memulai komunikasi. Pengetahuan kita tentang lawan bicara kita memudahkan kita untuk membuka saluran komunikasi yang lebih baik dengannya.

Followers